Langsung ke konten utama

Masa Disintegrasi Islam


A.     PERANG SALIB,LATAR BELAKANGNYA PERIODESASI DAN DAMPAK PERANG SALIB.

1.      Perang salib
Perang salib adalah peristiwa benih permusuhan orang kafir terhadap umat islam,kebencian itu bertambah setelah dinasti seljuk dapat merebut bait al-maqdis pada tahun 471 H. Dari kekuasaan dinasti fathimiyah yang berkududukan di mesir,pada tahun 1095 M. Paus urbanus II berseru kepada umat kristen di eropa supaya melakukan perang suci perang ini kemudian di kenal dengan nama perang salib,yang terjadi dalam tiga periodeb dengan tujuan membebaskan baitul maqdis dari umat islam ke orang kristen eropa. Perang salib adalah perang  yang paling lama dalam sejarah berlangsung selama 283 tahun  meninggalkan kerugian besar dan sejarah kelam antara kedua agama tersebut.[1]

2.      Latar belakang terjadinya Perang Salib
A.     Faktor Agama
Baitul maqdis tempat yang di anggap suci dan penting oleh umat islam dan kristen yang kemudian jatuh ketangan bani saljuk, hal ini menyebabkan pihak kristen yang merasa tidak leluasa  untuk datang ke baitul maqdis apalagi bani saljuk memperkuat aturan berziarah kepada pihak kristen dan di tambah lagi ekspedisi spektakuler sebagai akibat tidak langsung dari proses kebangkitan semangat religius yang melanda eropa pada abad X-XI (10-11) M. Pada abad ke-21, sebagian dunia Arab seperti Gerakan Kemerdekaan Arab dan gerakan Pan-Islamisme masih terus menyebut keterlibatan dunia Barat di Timur Tengah.

B.     Faktor Politik
Ketika itu dinasti Saljuk sedang mengalami perpecahan, dan Dinasti Fathimiyah di Mesir dalam keadaan lumpuh, sementara kekuasaan islam di Spanyol semakin goyang. Situasi yang demikian, mendorong para penguasa Kristen di Eropa untuk merebut satu persatu daerah kekuasaan islam, seperti dinasti kecil di Edessa dan Baitul Maqdis. Kekalahan bizantium dipertempuran manziket dan jatuhnya Anatolia dan Asia kecil ke bawah kekuasaan Bani saljuk telah membuat geram orang kristen. Kaisar Alexius Comnenus meminta bantuan kepada paus urbanus II untuk memulihkan kekuasaannya di daerah daerah yang diduduki Bani Saljuk. Kesediaan Paus urbanus II untuk membantu bizantium di dasari oleh janji Alexius untuk tunduk kepada kekuasaan paus di Roma, sehingga dengan ini paus urbanus berharap dapat menyatukan gereja yunani dan Romawi dibawah kekuasaannya. Gereja Yunani dan gereja Roma sejak tahun 1009 Hingga 1054 mengalami perpecahan.
Kondisi umat islam yang sedang mengalami perpecahan dan kelemahan mendorong keberanian orang salib untuk menyerang orang islam. Kondisi ini semakin diperparah oleh pertentangan segitiga antara khalifah Abbasiyah di Baghdad dengan khalifah Fatimiyah di Mesir dan Amir Umayyah di Spanyol yang masing-masing memproklamasikan diri sebagai khalifah.
C.      Faktor Sosial Ekonomi
Para pedagang besar di pantai timur laut tengah terutama yang berada di kota venezia,genoa,dan pisa berambisi merebut sejumlah kota – kota dagang di sepanjang pantai timur dan selatan laut tengah yang notabene di tempati orang islam untuk memeperluas jaringan dagang mereka karena itu mereka rela menanggung sebagaian dana kepada pihak kristen untuk kepentingan perang dan daerahnya pun sangat strategis untuk jalur perdagangan para saudagar. Di samping itu Stratifikasi sosial masyarakat eropa ketika itu terdiri dari tiga kelompok, yaitu kaum gereja, kaum bangsawan, serta kesatria, dan rakyat jelata. Meskipun merupakan mayoritas dalam masyarakat, kelompok yang terakhir ini menempati kelas yang paling rendah. Kehidupan mereka sangat tertindas dan terhina. Oleh karena itu, mereka di mobilisasi oleh pihak-pihak gereja untuk turut mengambil bagian dalam perang salib dengan janji akan diberikan kebebasan dan kesejahteraan yang lebih baik apabila perang dapat di menangkan. Mereka menyambut seruan itu secara spontan dengan melibatkan diri dalam perang tersebut.[2]

3.      Periodesasi Perang Salib
Periodisasi Perang Salib terbagi menjadi tiga periode . Pertama, disebut periode penaklukan (1009-1144 M ), kedua, Periode Masa timbulnya reaksi umat Islam ( 1144-1192 M ), dan Periode Ketiga, masa Kehancuran salib.
A.     Periode Pertama
Periode ini juga sering di sebut dengan tahap penaklukan (1096-1144 M) yaitu ekspekdisi militer yang dilakukan pasukan salib dipimpin oleh Godfrey of buillon yang dimulai pada musim semi tahun 1095 M. 150.000 orang eropa menuju konstantinopel kemudian pada tahun 1097 mereka sampai di baitul maqdis dan melanjutkan ekspansinya yang setelah dua tahun perjalanan perjuangan mereka berhasil menduduki kota yarussalem pada 7 juni 1099.
B.     Periode Kedua
Hampir setengah abad dari tahun 492-542H/1099-1147M Baitul Maqdis diduduki oleh tentara salib Pada tahun 1147-1179 M. dipimpin oleh raja Louis VII (tujuh) dari Perancis, Kaisar condrad II dari jerman. Akan tetapi gerak maju mereka di hambat oleh Nuruddin Zanki, Putra Imanuddin Zanki dan tentara Salib II tidak dapat berbuat banyak, bahkan dimana-mana dapat dikalahkan.Sementara itu Di Mesir peperangan salib ini melahirkan pahlawan yang termansyur namanya ialah Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi. Dengan pimpinan Shalahuddin ini bahkan tentara Islam dapat merebut kembali Baitul Maqdis, kota yang menjadi tujuan tentara salib,periode ini juga disebut tahap reaksi umat islam (1144-1192 M).
C.     Periode Ketiga
Tentara Salib pada periode ketiga ini dipimpin oleh raja jerman, Frederick II. Kali ini mereka berusaha merebut Mesir terlebih dahulu sebelum ke Palestina, dengan harapan mendapat bantuan dari orang-orang Kristen Qibti. Pada tahun 1219 M, mereka berhasil menduduki Dimyat Raja mesir dari Dinasti Ayyubiyah. Waktu itu, Al-Malik Al-Kamil, membuat perjanjian dengan Frederick. Isinya antara lain, Frederick bersedia melepaskan dimyat, sementara Al-Malik Al-Kamil melepaskan Palestina. Frederick menjamin keamanan kaum muslimin di sana dan Frederick tidak mengirim bantuan kepada Kristen Syria. Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum muslimin tahun 1247 M, di masa Pemerintahan Al-Malik Al-Shalih. Kemudian Ketika mesir dikuasai oleh dinasti Mamalik yang menggantikan posisi dinasti Ayyubiyah pimpinan perang dipegang oleh Baybars dan Qalwun. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum muslimin, tahun 1291 M. Periode ini juga di sebut kehancuran salib (1192-1291 M).[3]

4.      Dampak Perang salib
Dampak perang salib terbagi menjadi dua bagian yaitu secara khusus dan umum,adapun dampak perang salib secara khusus sebagai berikut :

     A. Dampak Terhadap Dunia Kristen
Mereka memperoleh pelajaran yang berharga dari dunia Islam. Hal ini disebabkan perkenalan mereka dengan kebudayaan dan peradaban Islam yang sudah maju, bahkan hal tersebut menjadi salah satu faktor pendukung lahirnya renaissance/pembangunan di Barat.
A.      Dampak perang salib Terhadap Dunia Islam
Memantapkan dan mengokohkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan umat dalam membela dan mempertahankan eksistensi agama Islam. Pengaruhnya yang lain adalah memperkenalkan dunia Islam yang mempunyai kebudayaaan tinggi kepada dunia Barat.[4]
Adapun dampak perang salib secara Universal sebagai berikut :
  A. Jalur perdagangan Eropa dan Timur Tengah menjadi terputus. Apalagi dengan dikuasainya Konstantinopel, maka para pedagang Eropa mulai mencari jalan lain untuk mendapatkan rempah-rempah secara langsung.
  B. Bangsa Eropa mulai mengetahui kelemahan dan ketertinggalan mereka dari orang-orang Islam dan Timur, sehingga mereka mencoba untuk mengejar ketertinggalan itu dengan pengembangan Iptek secara besar-besaran.
  C. Adanya motif balas dendam di kalangan orang-orang Kristen terhadap orang muslim karena kekalahannya dalam peperangan di dunia Timur dalam rangka menguasai jalur perdagangan.[5]

B.     INVASI MONGOL
    Fakta sejarah mengungkapkan bahwa pelopor bangsa Mongol adalah Yesugay, ayah dari Chinggis Khan. Setelah kematian Yesugay, Chinggis Khan memimpin bangsa Mongol. Nama jelas Chinggis adalah Temujin yang lahir pada tahun 1154 M. Dan memproklamasikan sebagai Khan (raja) pada tahun 1219, bangsa Mongol menaklukkan Cina seluruh bangsa Tartar. Sejak itu, umat Islam diatur oleh beberapa dinasti baru. Invasi Mongol terjadi pada masa pemerintahan Iltutmish pada tahun 1221 M. Orang-orang Mongol muncul untuk pertama kalinya ditepi Sungai Indus di bawah pemimpin mereka yang terkenal, Chinggis Khan. Dia menjadikan orang-orang Mongol sebagai kekuatan politik dan militer yang terbesar di Asia. Dia menundukkan negeri-negeri Asia Tengah dan Asia Barat dengan cepat.



    Wilayah kultur Arab menjadi jajahan Mongol setelah Baghdad ditaklukkan oleh Hulako Khan,Ia membentuk kerajaan Il Khaniyah yang berpusat di Tabris dan Maragha. Ia dipercaya oleh saudaranya, Mongke Khan untuk mengembalikan wilayah-wilayah Mongol di Asia Barat yang telah lepas dari kekuasaan Mongol setelah kematian Jengis. Ia berangkat dengan disertai pasukan yang besar untuk manunaikan tugas itu tahun 1253 dari Mongolia. Atas kepercayaan saudaranya itu Hulako Khan dapat menguasai wilayah yang luas seperti Persia, Irak, Caucasus dan Asia Kecil sebelum menundukkan Bagdad, ia telah menguasai pusat gerakan Syi’ah Isma’iliyah di Persia utara, pada tahun 1256 M.[6]

C.     DINASTI-DINASTI KECIL DI BARAT DAN TIMUR
     Masa Disintegrasi islam di bidang politik sebenarnya sudah muncul sejak berakhirnya pemerintahan Bani Umayah, tetapi dalam sejarah politik islam terdapat perbedaan antara pemerintahan Bani Umayah dan pemerintahan abbasiyah. Wilayah kekuasaannya tidak pernah diakui didaerah spanyol dan daerah Afrika Utara. Kecuali mesir yang bersifat sebentar-sebentar, bahkan pada kenyataannya terdapat banyak daerah yang tidak dikuasai oleh Dinasti abbasiyah hal itu dikarenakan seorang khalifah dari Abbasiyah tidak mengurus daerah yang sudah ditakluan, hanya sekedar penaklukan dan pendirian saja. Peta kekuasaan tersebut telah banyak mengakibatkan bermunculan wilayah-wilayah atau provinsi yang memisahkan diri dari pemerintahan Abbasiyah dan membentuk dinasti-dinasti kecil. Selain itu pula, luasnya wilayah kekuasaan Abbasiyah, telah menjadikan khalifah dari dinasti abbasiyah tidak mampu untuk mengawasi secara efektif yang jauh dari pusat pemerintahan, sehingga sangat memungkinkan bagi daerah-daerah terpencil untuk melepaskan dan memerdekakan diri dari kekuasaan tersebut.[7]
   

Berikut ini Beberapa dinasti kecil di timur dan barat yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khalifah Abbasyiah, diantaranya adalah :
1.    Dinasti yang berada di wilayah barat :
a)  Thahiriyah peradapan di Khurasan (205-259 H/820-872 M)
b)  Shafariyah peradapan di Fars (254-290 H/868-901 M)
c)  Samaniyah peradapan di Transoxania (261-289 H/873-998 M)
d)  Sajiyyah peradapan di Azerbeijan (266-318 H/878-930 M)
e)  Buwaihiyah bahkan menguasai Baghdad (320-447 H / 932-1055 M)
f)  Thuluniyah peradapan diantara jordania dan Mesir (254-292 H/837-903 M)
g)  Ikhsyidiyah peradapan di Turkistan (320-560 H/932-1163 M)
h)  Ghazanawiyah peradapan di Afganistan (351-585 H/962-1189 M)
i)   Dinasti Seljuk dan cabang-cabangnya peradapan di yarussalem
2.    Dinasti Yang berada di wilayah timur :
a)   Al Barzuqani peradapan di kazakhstan (348-406 H/959-1015 M)
b)   Abu Ali peradapan di tabaristan (380-489 H/990-1095 M)
c)   Ayubiyah peradapan di mesir (564- 648 H/1167-1250 M)
d)   Idrisiyah di maroko (172-375 H/788-985 M)
e)   Aghlabiyah di Tunisia (184-289 H/800-900 M)
f)   Dulafiyah di Kurdistan (210-285 H/825-898 M)[8]



[1] Badri yatim,Sejarah peradapan Islam, Hal :76
[2]  Didin saepudin, Sejarah peradapan Islam, Hal: 140
[3] Badri yatim,Sejarah peradapan Islam, Hal : 83
[4]  Didin saepudin, Sejarah peradapan Islam , Hal : 147
[5] Qasim A. Ibrahim, buku pintar Sejarah Islam, Hal : 572
[6] Qasim A. Irahim,buku pintar Sejarah Islam, Hal : 661
[7] Ahmad Al-usairy, Sejarah Islam, Hal : 322
[8] Badri Yatim,Sejarah peradapan Islam, Hal : 66

Komentar